Praktikum Hukum Ohm
I. TUJUAN
PERCOBAAN
1. Mempelajari hubungan
antara tegangan dan kuat arus yang mengalir dalam sebuah rangkaian.
2. Mempelajari pengaruh
hambatan terhadap arus listrik.
II. LANDASAN
TEORI
Hukum Ohm adalah suatu pernyataan bahwa besar arus
listrik yang mengalir melalui sebuah penghantar selalu berbanding lurus dengan beda
potensial yang diterapkan kepadanya. Sebuah
benda penghantar dikatakan mematuhi hukum Ohm apabila nilai resistansinya tidak
bergantung terhadap besar dan polaritas beda potensial yang dikenakan
kepadanya. Walaupun
pernyataan ini tidak selalu berlaku untuk semua jenis penghantar, namun istilah
"hukum" tetap digunakan dengan alasan sejarah.
Secara matematis hukum Ohm diekspresikan dengan persamaan:
Dimana :
· adalah arus
listrik yang mengalir pada suatu penghantar dalam satuan Ampere.
· adalah tegangan
listrik yang terdapat pada kedua ujung penghantar dalam satuan volt.
· adalah nilai hambatan
listrik (resistansi) yang terdapat pada suatu penghantar dalam satuan ohm.
Berdasarkan hukum Ohm, 1 Ohm didefinisikan sebagai hambatan
yang digunakan dalam suatu rangkaian yang dilewati kuat arus sebesar 1 Ampere
dengan beda potensial 1 Volt. Oleh karena itu, kita dapat mendefinisikan
pengertian hambatan yaitu perbandingan antara beda potensial dan kuat
arus. Semakin besar sumber tegangan maka semakin besar arus yang
dihasilkan. Jadi, besar kecilnya hambatan listrik tidak dipengaruhi oleh besar
tegangan dan arus listrik tetapi dipengaruhi oleh panjang penampang, luas
penampang dan jenis bahan. Hambatan dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu panjang,
luas dan jenis bahan. Hambatan berbading lurus dengan panjang benda, semakin
panjang maka semakin besar hambatan suatu benda. Hambatan juga berbading
terbalik dengan luas penampang benda, semakin luas penampangnya maka semakin
kecil hambatannya. Inilah alasan mengapa kabel yang ada pada tiang listrik
dibuat besar-besar, tujuannya adalah untuk memperkecil hambatan sehingga
tegangan bisa mengalir dengan mudah. Hambatan juga berbanding lurus dengan
jenis benda (hambatan jenis) semakin besar hambatan jenisnya maka semakin besar
hambatan benda itu.
III. ALAT
DAN BAHAN
1. Catu Daya
2. Bohlam lampu
3. Ohm Meter
4. Ampere Meter
5. Papan Penghubung
6. Pitting
7. Kabel Penghubung
8. Resistor
IV. LANGKAH
KERJA
1. Dirangkai lampu pada
papan penghubung.
2. Diukur nilai hambatan
pada resistor berdasarkan gelang-gelang warna yang tertera pada resistor. Lalu, hasil perhitungan dimasukkan ke dalam tabel pengamatan.
3. Diukur nilai hambatan
pada kawat resistor menggunakan ohm meter. Lalu, nilai yang tertera pada ohm meter dimasukkan ke dalam tabel perhitungan.
4. Lalu, dihubungkan
antara lampu pada papan penghubung dengan kawat resistor secara paralel. Rangkaian terlebih dahulu telah terhubung dengan catu daya dengan besar
tegangan 3 V.
5. Setelah menghitung
nilai hambatan pada tiap resistor, kemudian rangkaian tersebut kembali
dihubungkan dengan ampere meter untuk mengetahui nilai arus yang mengalir.
6. Setelah mendapatkan
nilai arus yang mengalir menggunakan ampere meter, hitung jumlah arus yang mengalir dengan menggunakan hukum ohm.
7. Masukkan semua data ke
dalam tabel pengamatan. Dan, amati perbandingan nilai di antara keduanya.
V. HASIL
PENGAMATAN
|
No
|
R
|
I
|
||
|
Ohm meter
|
Kode Warna
|
Ampere meter
|
Terhitung
|
|
|
1.
|
5Ω
|
5,6 Ω
|
0,20 A
|
0,6 A
|
|
2.
|
3,5 Ω
|
2,9 Ω
|
0,21 A
|
0,85 A
|
|
3.
|
4 Ω
|
4,1 Ω
|
0,20 A
|
0,75 A
|
|
4.
|
1.500 Ω
|
1.800 Ω
|
0,5 mA
|
0,002 A
|
|
5.
|
80 Ω
|
100 Ω
|
0,01 A
|
0,0375 A
|
|
6.
|
1.300 Ω
|
1.500 Ω
|
0,5 A
|
0,0023 A
|
|
7.
|
1.700 Ω
|
2.000 Ω
|
0,19 A
|
0,0017 A
|
|
8.
|
6 Ω
|
6,8 Ω
|
0,19 A
|
0,5 A
|
|
9.
|
1000 Ω
|
1.200 Ω
|
0,5 mA
|
0,003 A
|
|
10.
|
1.800 Ω
|
2.200 Ω
|
0,5 mA
|
0,0016 A
|
VI. ANALISIS
PERBANDINGAN NILAI TERUKUR DAN TERHITUNG
Dari percobaan tersebut, dapat diketahui jika lampu hanya
bisa menyala saat nilai hambatan pada resistor kecil. Sedangkan nilai arus yang
terukur lebih besar jika dibandingkan dengan arus listrik saat menggunakan
resistor dengan nilai yang besar.
Ketika nilai hambatan pada resistor sebesar 5 Ω, hambatan
yang tertera pada ampere meter sebesar 0,2 A. Dan lampu dalam kondisi menyala.
Berbeda dengan percobaan ketika nilai resistornya sebesar 1.800 Ω, nilai
kuat arus yang tertera pada ampere meter adalah sebesar 0,5 mA. Dan, lampu
dalam kondisi tidak menyala. Lampu tidak bisa menyala karena nilai hambatan
yang begitu besar. Sehingga membuat kuat arus yang mengalir menjadi kecil.
Karena hal tersebutlah, lampu jadi tidak bisa menyala.
Hal ini sangat sesuai dengan hukum ohm, jika nilai hambatan
berbanding terbalik dengan uat arusnya. Jika nilai hambatan pada resistor
besar, maka nilai kuat arus yang terukur akan besar. Sebaliknya, jika nilai
hambatan yang terukur pada resistor besar, maka nilai kuat arus yang terukur
akan kecil.
Hal ini terbukti ketika dilakukan perhitungan nilai kuat
arus dengan cara biasa. Tidak dengan menggunakan ampere meter. Walaupun
terdapat selisih nilai antara nilai yang tertera pada ampere meter dan nilai
yang dihasilkan dengan cara perhitungan biasa.
Pada percobaan ini, data hasil pengamatan kami kurang
akurat. Adapun kesalahan- kesalahan dalam percobaan dapat disebabkan karena :
· Alat
yang digunakan untuk percobaan kurang berfungsi dengan baik ataupun sudah rusak
· Kurangnya
ketelitian dalam membaca alat ukur
· Kesalahan
praktikan dalam pengukuran dan penghitungan
VII. KESIMPULAN
Dari beberapa percobaan di atas, jadi bisa disimpulkan
beberapa hal seperti di bawah ini.
1. Nilai hambatan
berbanding terbalik dengan nilai kuat arusnya. Jika nilai hambatannya besar,
maka nilai kuat arusnya akan kecil. Begitu juga sebaliknya.
2. Setelah
melakukan praktikum tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hukum Ohm menyatakan
bahwa kuat arus listrik (I) sebanding dengan beda potensial yang diberikan dan
berbanding terbalik dengan hambatan rangkaian (R) dapat disimbolkan
dengan : V = I R
No comments:
Post a Comment